Sabtu, 28 Mei 2016

Linguistics Bidang Psikology



Psikologi
Secara etimologi kata psikologi berasal dari bahasa Yunani kuno psyche dan logos. Kata psyche berarti jiwa, roh, atau sukma, sedangkan kata logos berarti ilmu. Jadi psikologi secara harfiah berarti ilmu jiwa atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa. Dulu ketika psikologi masih merupakan bagian dari ilmu filsafat, defenisi bahwa psikologi adalah ilmu yang mengkaji jiwa masih dapat dipertahankan. Namun, kini istilah ilmu jiwa tidak lagi digunakan lagi karena bidang ilmu ini tidak meneliti jiwa atau roh, atau sukma sehingga istilah itu kurang tepat.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, psikologi lebih membahas atau mengkaji tentang sisi-sisi manusia dari segi yang bisa diamati. Dalam perkembangannya, psikologi telah terbagi menjadi beberapa aliran sesuai dengan paham filsafat yang dianut. Karena itulah dikenal adanya psikologi yang mentalistik, yang behavioristik, dan yang kognifistik.
Psikologi mentalistik melahirkan aliran yang disebut psikologi kesadaran yang bertujuan mencoba mengkaji proses-proses akal manusia dengan cara mengintrospeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi kesadaran lazim juga disebut psikologi introspeksionisme. Psikologi ini merupakan suatu proses akal dengan cara melihat ke dalam diri sendiri sebagai suatu rangsangan yang terjadi. Psikologi yang behavioristik melahirkan aliran yang disebut psikologi prilaku. Tujuan utama psikologi prilaku ini adalah mencoba mengkaji proses-proses akal manusia yang berupa reaksi apabila suatu rangsangan terjadi, dan selanjutnya bagaimana mengawasi dan mengontrol prilaku itu. Psikologi kognifistik dan lazim disebut psikologi kognitif mencoba mengkaji proses kognitif manusia secara ilmiah. Yang dimaksud proses kognitif adalah proses-proses akal (pikiran, berpikir) manusia yang yang bertanggung jawab mengatur pengalaman dan prilaku manusia. Hal utama yang dikaji oleh psikologi kognitif adalah bagaimana cara manusia memperoleh, menafsirkan, mengatur, menyimpan, mengeluarkan, dan menggunakan pengetahuannya, termasuk perkembangan dan penggunaan pengetahuan bahasa.


1.      Linguistik
Secara umum linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Para pakar linguitik disebut linguis. Namun, kata linguis dalam bahasa Inggris juga berarti orang yang mahir menggunakan beberapa bahasa. Kalau dikatakan bahwa linguistik itu adalah ilmu yang objek kajiannya adalah bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri merupakan fenomena yang hadir dalam segala aktivitas kehidupan manusia, maka linguistik menjadi sangat luas bidang kajiannya. Oleh karena itu, kita bisa melihat adanya berbagai cabang linguistik yang dibuat berdasarkan berbagai kriteria atau pandangan.
Secara umum pembidangan linguistik itu adalah sebagai berikut.
Pertama, Menurut objek kajiannya, Linguistik dapat dibagi atas dua cabang besar yaitu linguistik makro dan linguistik mikro. Objek kajian linguistik makro adalah struktur internal sendiri yang mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Sedangkan linguistik mikro bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis, antropologi, neurologi. Kedua, menurut tujuan kajiannya, linguistik dapat dibedakan atas dua bidang besar yaitu linguistik teoritis dan linguistik terapan. Kajian teoritis hanya ditujukan untuk mencari atau menemukan teori-teori linguistik belaka. Ketiga, adanya yang disebut linguistik sejarah, mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa atau sejumlah bahasa, baik dengan diperbandingkan maupun tidak. Yang kedua sejarah linguistik, mengkaji perkembangan ilmu linguistik, mengkaji perkembangan ilmu linguistik, baik mengenai tokoh-tokohnya, aliran-aliran teorinya, maupun hasil-hasil kerjanya.
Dalam kaitannya dengan psikologi, linguistik lazim diartikan sebagai ilmu yang mencoba mempelajari hakikat bahasa, struktur bahasa, bagaimana bahasa itu berkembang.

  
1.      Psikolinguistik
Secara etimologi sudah disinggung bahwa kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda yang masing-masing berdiri sendiri dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa.
Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kamampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia (Solbin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Maka secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.
 
2.      Subdisiplin Psikolinguistik
Psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin Psikolinguistik. Diantara subdisiplin itu adalah sebagai berikut :
1.      Psikolinguistik Teoritis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misanya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.
2.      Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2).
3.      Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek social bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja. Tetapi merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.
4.      Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah.
5.      Psikolinguistik Neurologi(Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu.

6.      Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliputi dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.
7.      Psikolinguistik Terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas ke dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini adalah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman. Pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan sastra.

3.      Induk disiplin Psikolinguistik
Karena psikolinguistik merupakan gabungan dari psikologi dan linguistik, maka timbul pertanyaan apa induk disiplin psikolinguistik, linguistik atau psikologi. Beberapa pakar beranggapan bahwa psikolinguistik itu adalah cabang dari disiplin psikologi karena nama psikolinguistik itu telah diciptakan untuk menggantikan nama lama dalam psikologi, yaitu psikologi bahasa. Ada pula pakar linguistik yang mengatakan bahwa psikolinguistik itu adalah cabang dari disiplin induk linguistik karena bahasa adalah objek utama yang dikaji oleh pakar‑pakar linguistik dan pakar psikolinguistik mengkaji semua aspek bahasa itu. Di Amerika Serikat psikolinguistik pada umumnya dianggap sebagai cabang linguistik, meskipun ada juga yang menganggap bahwa psikolinguistik merupakan cabang dari psikologi. Chomsky sendiri menganggap psikolinguistik itu sebagai cabang dari psikologi. Di Prancis pada tahun 60‑an psikolinguitik pada umumnya dikembangkan oleh pakar psikologi sehingga menjadi cabang psikologi. Di Inggris psikolinguistik semula dikembangkan oleh pakar linguistik yang bekerja sama dengan para pakar dalam bidang psikologi dari Inggris dan Amerika Serikat. Di Rusia, psikolinguistik dikembangkan oleh pakar linguistik di Institut Linguistik Moskow, sedangkan di Rumania kebanyakan pakar beranggapan bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri sekalipun peranannya banyak di bidang linguistik.

4. Perolehan Bahasa Psikologi
Terdapat beberapa teori mengenai perolehan bahasa pada bayi dan balita yang bersumber pada perkembangan psikologi yang bersifat natur dan nurtur. Natur adalah aliran yang meyakini bahwa kemampuan manusia adalah bawaan sejak lahir. Oleh karena itu manusia telah dilengkapi secara biologis oleh alam (natur) untuk memproduksi bahasa melalui alat-alat bicara (lidah, bibir, gigi, rongga tenggorokan, dibantu oleh alat pendengaran) maupun untuk memahami arti dari bahasa tersebut (melalui skema pada kognisi).

Noam Chomsky adalah tokoh yang mempercayai peran natur secara radikal dalam perolehan bahasa. Pihak yang mempercayai kekuatan nurtur dalam perolehan bahasa berargumen bahwa bayi dan balita memperoleh bahasa karena terbiasa pada bahasa ibu. Hal ini terbukti pada pembentukan kemampuan fonem yang tergantung pada bahasa ibu. Misalkan pada bayi Jepang pada usia dibawah 6 bulan masih dapat membedakan fonem ra dan la dengan jelas, namun pada usia satu tahun mereka kesulitan untuk membedakan fonem ra dan la.Michael Tomasello mengkritik Chomsky bahwa bahasa tidak akan muncul begitu saja. Ia meyakini bahwa bahasa diperoleh karena bayi belajar menggunakan bahasa sebagai simbol terlebih dahulu dengan kemampuan bayi untuk melakukan atensi bersama (Join attention) pada saat sebelum bayi mampu memproduksi bahasa. Pada dasarnya natur dan nurtur memiliki kontribusi terhadap perolehan bahasa pada bayi.


5. Teori dari Psikologi
  1. Teori Pembiasaan Operan dari Skinner
Teori pembiasaan operan atau yang sering disebut dengan pembiasaan instrumental diperkenalkan oleh B. F. Skinner (seorang ahli psikologi Amerika). Skinner percaya bahwa proses pembelajaran didasarkan pada penguatan. Teori tentang pembiasaan operan dijelaskan Skinner melalui percobaannya dengan seekor tikus. Di dalam sebuah kotak yang disebut kotak Skinner terdapat sebuah kaleng kotak makanan, dan di luar terdapat alat untuk menjatuhkan biji-bijian ke dalam kaleng tersebut. Setiap kali makanan jatuk ke dalam kaleng maka terdengar bunyi “ting”. Seekor tikus dimasukkan ke dalam kotak Skinner tersebut. Biji makanan akan jatuh jika sebatang besi yang disisipkan ke dalam kotak itu dipijak oleh tikus. Pada waktu tikus itu lapar, secara kebetulan tikus itu memijak batang besi, dan biji-bijian akan jatuh ke kaleng makanan. Setelah beberapa kali tikus mengetahui apabila ia menekan besi maka makanan akan jatuh ke dalam kaleng.
Biji makanan adalah penguat (reinforce), peristiwa penekanan batang besi disebut peristiwa penguatan (reinforcing event), munculnya makanan disebut rangsangan penguat (reinforcing stimulus), sedangkan perilaku tikus merupakan perilaku yang dibiasakan (conditioned response). Perilaku yang dibiasakan bersifat operan/instrumental menyebabkan munculnya biji makanan. Tingkah laku operan berpengaruh terhadap lingkungan, dan lingkungan yang dipengaruhi memberikan hadiah sebagai penguatan kepada pelaku kegiatan (dalam hal ini tikus). Hadiah yang menjadi penguat ini meyebabkan tikus akan menekan batang besi ketika lapar.
Bagi Skinner, dalam pembelajaran, guru merupakan arsitek utama dalam pembentukan tingkah laku siswa agar siswa dapat bertutur sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa. Tujuan pembelajaran dibagi dalam tugas–tugas kecil yang diperkuat satu demi satu agar serangkaian perbuatan (operan) dapat diperkuat dan menambah kemungkinan perbuatan tersebut di kemudian hari. Menurut Skinner, yang harus diperhatikan adalah hubungan antara stimulus dan respons yang langsung dapat diamati, jangan memikirkan hubungan antara keduanya karena hubungan–hubungan yang ada tidak dapat diamati.
Skinner memaparkan bahwa perilaku berbahasa lebih banyak dipengaruhi oleh rangsangan (stimulus) dari luar serta pengukuhan (reinforcement). Skinner tidak menerima akan adanya pendapat yang menyebutkan bahwa “kepandaian belajar bahasa seseorang dibawa sejak lahir”, karena pembelajaran bahasa diperoleh sebagai hasil belajar. Mengenai pemerolehan bahasa Ibu oleh anak – anak, Skinner berpendapat bahwa pemerolehan tersebut berlangsung secara berangsur – angsur dan mengikuti peristiwa – peristiwa tertentu.



2.       Teori Meditasi dan Osgonal
Teori meditasi atau penengah (mediation theory), yang termasuk kelompok teori S-R diperkenalkan oleh Osgood (1953, 1962). Terori meditasi ini merintis lahirnya teori–teori kognitif, karena mengakui adanya faktor meditasi atau penengah di antara rangsangan (stimulus) dan gerak balas (respons). Teori-teori yang termasuk kelompok neobehaviorisme sangat tertarik pada proses-proses yang berlaku sebagai penengah atau meditasi antara stimulus dan respons. Osgood juga telah menjelaskan proses pemerolehan sematik (makna) berdasarkan teori meditasi atau penengah ini.
Teori meditasi menerangkan pembelajaran menurut rumus:
S                  rm                                             sm                                       R
                                                                                                          Keterangan:
                                                                                                          S             = Stimulus
rm          = Respons mediasi
sm                    = Stimulus mediasi
R            = Respons
Menurut Osgood makna merupakan hasil proses pembelajaran dan pengalaman seseorang dan merupakan satu proses meditasiuntuk melambangkan sesuatu. Makna sebagai proses meditasi pelambang dan merupakan satu bagian yang distingtif dari keseluruhan respon terhadap satu obyek yang telah dibiasakan pada kata untuk objek tersebut.
Osgood ( 1953) juga memperkenalkan konsep sign (tanda atau isyarat) sehubungan dengan makna ini. Yang dimaksud dengan sign adalah satu pola rangsangan yang memunculkan satu respon penengah dalam organ (manusia). Respon penengah atau meditasu ini hanyalah bagian kecil saja dari keseluruhan stimulus (perilaku) yang biasanya dimunculkan oleh objek asli. Menurut Osgood, kata-kata adalah sign yang telah dibiasakan pada bagian tertentu dari keseluruhan respons objek asli dan berfungsi dalam perilaku sebagai proses meditasi pelambang.


Tampaknya di Indonesia psikolinguistik dikembangkan dibidang linguistik pada fakultas pendidikan bahasa dan belum pada program nono kependidikan bahasa. Psikolinguistik yang dikembangkan dalam pendidikan bahasa sudah seharusnya diserasikan dengan perkembangan linguistik dan perkembangan psikologi. Untuk itu dituntut adanya penguasaan yang seimbang akan teori psikologi. Lalu yang patut dikembangkan dalam pendidikan bahasa adalah subdisiplin psikolinguistik perkembangan dan psikolinguistik pendidikan. (Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik : Kajian Teoretik. Jakarta : PT Rineka Cipta)

Jumat, 06 Mei 2016

LEXICOLOGY





 

leksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari seluk beluk makna/arti kosakata yang telah termuat atau akan dimuat di dalam kamus. Leksikologi atau ilmu kosakata adalah ilmu yang membahas tentang kosakata dan maknanya dalam sebuah bahasa atau beberapa bahasa. Ilmu ini memperioritaskan kajiannya dalam hal derivasi kata, struktur kata, makna kosakata, idiom-idiom, sinonim dan polisemi.
leksikologi dalam bahasa inggris dinamakan lexicology yang berarti ilmu/studi mengenai bentuk, sejarah dan arti kata-kata. sedangkan dalam bahasa arab, leksikologi disebut dengan Ilm-Ma'ajim, yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kamus.
menurut bahasa lexicology berasal dari kata lexicon yang berarti: kamus, mu'jam atau istilah dari sebuah ilmu. menurut istilah, leksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari seluk beluk makna/arti kosakata yang telah termuat atau akan dimuat di dalam kamus. Al-Khuli menerjemahkan istilah lexicology dengan sebutan Ilm Al-Mufradat (ilmu kosakata), bukan ilm Al-Ma'ajim. menurutnya, pembahasan tentang kosakata dan maknanya telah termuat dalam ruang lingkup ilmu kosa kata (Ilm Al-Mufrodat).